Memastikan Ketersediaan Air Minum yang Aman di IKN: Peran Krusial Monitoring dan Evaluasi
“Nusantara baru, Indonesia maju”. Tagline peringatan kemerdekaan RI yang ke-79 ini diusung atas dasar pembangunan Ibu Kota Nusantara yang sedang berlangsung di Kalimantan Timur. Pemerintah berharap IKN dapat menjadi modal untuk menunjang cita-cita bangsa.
Pembangunan IKN sejak awal banyak menuai pro dan kontra di berbagai kalangan. Di samping kebermanfaatannya seperti membuka lapangan pekerjaan masyarakat, pembangunan IKN juga berpotensi mencederai aspek lingkungan hidup.
Salah satu aspek lingkungan yang penting diperhatikan yaitu ketersediaan air minum yang aman. Sumber air baku di Pulau Kalimantan dan Pulau Jawa memiliki karakteristik yang berbeda. Di Pulau Jawa, sumber air baku dipengaruhi oleh tutupan batuan vulkanik sebagai penyaringan air tanah yang baik.
Sedangkan di Pulau Kalimantan, tutupan gambut mendominasi topografi wilayah. Hal ini menyebabkan air tanah di Kalimantan memiliki kandungan besi yang berdampak negatif pada kesehatan masyarakat jika tidak diolah lebih lanjut.
Dikutip dari BBC, pakar hidrologi dari Serayu Institute, Munir, menyatakan bahwa pengelolaan air minum di IKN akan lebih menantang jika dibandingkan dengan pengelolaan air minum di Jakarta.
“Untuk Ibu Kota Nusantara yang ditempatkan di Penajam Paser Utara itu mau tidak mau ya harus menggunakan pendekatan teknologi,” katanya.
Akses Air Minum yang Aman, WASH, dan Kesehatan Masyarakat
Penggunaan teknologi untuk mengelola air bersih berpotensi membuat harga air bersih menjadi lebih mahal. Lebih lanjut, hal ini berpotensi pada tidak meratanya akses air bersih di masyarakat terutama masyarakat dengan ekonomi menengah ke bawah.
Akses air bersih merupakan komponen kunci keberlangsungan hidup masyarakat yang sehat. Negara berkewajiban untuk menjamin akses air bersih, termasuk sarana dan prasarana higiene dan sanitasi masyarakat.
Akses WASH (Water, Sanitation, and Hygiene) yang aman tidak hanya merupakan prasyarat kesehatan, tetapi juga berkontribusi pada mata pencaharian, kehadiran sekolah, serta membantu menciptakan komunitas yang resilien dari masalah kesehatan.
Konsumsi air minum yang tidak aman mampu menyebabkan permasalahan kesehatan masyarakat melalui penyebaran penyakit berbasis air (water-borne diseases) seperti diare dan polio. Air bersih juga menjadi kunci dalam upaya pencegahan penyakit-penyakit tropis terabaikan seperti trakoma, kecacingan, dan schistosomiasis.
Menjamin Ketersediaan Air Minum di IKN melalui Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi (monev) menjadi kunci keberhasilan penyediaan air minum yang aman di IKN. Proses monev memungkinkan pemantauan berkelanjutan terhadap kualitas dan distribusi air, serta memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat memperoleh akses terhadap air bersih yang aman untuk dikonsumsi.
Evaluasi secara berkala juga memungkinkan pemerintah atau perusahaan pengelolaan air minum untuk mengukur efektivitas teknologi pengolahan air dan kebijakan distribusi yang telah diterapkan, sehingga dapat dilakukan penyesuaian atau perbaikan jika diperlukan.
Lebih jauh lagi, monev berperan penting dalam mengidentifikasi dampak jangka panjang penyediaan air minum yang aman terhadap kesehatan masyarakat di IKN. Dengan demikian, pembangunan IKN tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kesehatan masyarakat.
Namun, terdapat salah satu hal yang perlu diperhatikan terkait hal ini. Sebagaimana ditekankan oleh Trimo Pamudji, Expert Associate MONEV Studio, keberhasilan monev sangat bergantung pada sistem yang terstruktur dan terintegrasi, serta aplikasinya di lapangan.
“.. cuma apakah monevnya itu tersistematis, terstruktur, digunakan, itu yang menjadi masalah”, katanya.
Keberhasilan penyediaan air minum yang aman di IKN tidak hanya bergantung pada perencanaan yang matang, namun juga pada implementasi sistem monitoring dan evaluasi yang efektif dan berkelanjutan. Dengan demikian, informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk mengambil keputusan yang tepat guna meningkatkan kualitas dan ketersediaan air bersih di IKN dalam rangka menunjang aktivitas masyarakat di dalamnya.
(Ditulis oleh Natasya Anggraeni, Research and Operation Officer MONEV Studio)



